Hj Nurmi Nurdin (kiri) yang menjadi korban likuifaksi dan cucunya Andini "Dhika" Paramudita yang hingga kini tak pernah ditemukan jasadnya. Dhika diketahui saat terjadi gempa dan likuifaksi pada 28 September 2018 lalu, sudah berada di kompleks perumahan stelah kembali dari Kampus Untad. [Ist]

Andini Anakku, Engkau Pamit ke Kampus Pulang “Disambut” Likuifaksi

Palu, Jurnalsulawesi.com – Sejauh mata memandang, hanya ada reruntuhan dan puing-puing yang berserakan. Itulah yang terjadi di daerah Perumnas Kelurahan Balaroa yang diguncang bumi dan dibolak-bolak fenomena lumpur bergerak.

Semuanya hilang, hanya dalam hitungan detik. Padahal, sebelumnya ada ribuan bangunan kokoh berdiri. Puing-puing bangunan yang terhampar di lahan luas itu menjadi saksi bisu fenomena alam yang mengerikan pada Jumat, September 2018 lalu. Likuifaksi namanya. Bahasa mudahnya, pembuburan tanah.

Jelang lima bulan pasca musibah itu melanda Perumnas Balaroa, pada Minggu 24 Februari 2019, ada seorang wanita yang usianya sekira 40 tahun berdiri.

Pandangannya lurus ke arah sebuah lokasi reruntuhan yang sudah rata dengan tanah. Tangannya membawa tasbih, dompet dan satu buah handphone.

Wanita itu bernama Hernawati Rusti Malonda, sesekali ia jongkok, kemudian berdiri lagi. Dari sorotan matanya, terpancar rona-rona kepedihan yang sangat mendalam. Semua ini dikarenakan puteri sulungnya Andini Paramudhita dan ibunya Hj Nurmi Nurdin harus pergi untuk selama-lamanya.

Ia mengaku, sebelum musibah itu datang, ia sedang bersama dua putrinya Virgina Maharani dan Rabiatul Adawiyah di dalam rumah. Namun jelang adzan magrib, putri bungsunya pamit ke Masjid, sehingga hanya mereka berdua di dalam rumah.

Hernawati Rusti Malonda yang sempat bertaruh nyawa hingga lebih dari enam jam dengan posisi terjepit reruntuhan bangunan bersama putri keduanya, harus kehilangan ibu dan putri sulungnya Andini “Dhika” Paramudita. [Ist]

Namun saat hendak mengambil air wudhu, tiba-tiba gempa berkekuatan 7,4 SR datang. Tembok rumahnya serta milik tetangganya ambruk. Putri ke duanya yang sedang nonton TV langsung berteriak-teriak memanggil ibunya. Tatkala seluruh perabot rumah dan dinding rumah ruboh, keduanya langsung berpelukan di antara reruntuhan.

Hampir enam jam keduanya yang saling berpelukan bertahan hidup.
Untungnya Virgina anaknya tetap memegang handphone. Handpone inilah yang dijadikan penerangan di antara kegelapan malam dan reruntuhan bangunan.

Dalam keheningan malam, terdengar suara ibunya dari balik rumah sebelah serta dua tetangganya yang minta tolong.

Di tengah kepasrahan serta nafas yang tersengal-sengal, kata Wati sapaan akrabnya ia hanya bisa berdoa. “Yaa Allah, jika memang kematianku harus seperti ini, maka saya ikhlas, namun jika tidak, tolong selamatkan saya dan anakku.

Tiba-tiba dari balik reruntuhan rumah terdengar suara seorang lelaki. ” Ada orang, ada orang. Sontak anaknya Virgina tersentak lalu memukul-mukul pipinya ibunya yang tertindis. Mama, mama jangan tidur mama bangun. Di tengah kepasrahan, kata Wati sapaan akrabnya ia hanya bisa berdoa.

Dengar suara agak sedkit parau, ia menjawab keinginan anaknya. Nyalakan lampu handponemu nak, biar kelihatan dimana kita terjebak reruntuhan.

“Sabar bu kase tanda, biar kita cari jalan untuk manolong,” jawab lelaki tersebut.

Untuk mengevakusi Hernawati dan anaknya, memakan waktu berjam-jam karena harus membongkar bumbungan rumah yang ambruk, agar mereka bisa di keluarkan. Bahkan putrinya harus ditarik dari kaki, karena untuk masuk ke dalam dikhawatirkan bangunan akan ambrol.

Sebab posisi waktu itu, amukkan likuifaksi masih terus berlangsung, ditambah lagi dengan kobaran api yang semakin mendekat.

Alhamdulillah, dua lelaki yang sampai saat ini masih misterius berhasil mengevakuasi ibu dan anak ini, sekalipun dalam kondisi yang mengenaskan. Tubuh anaknya penuh dengan luka, kakinya pincang dan tangannya bengkak. Sementara Hernawati sendiri, menderita luka yang cukup parah di sekujur tubuh. Wajahnya dipenuhi debu dan tubuhnya sulit digerakkan akibat benturan keras.

Ia masih sempat meminta bantuan kepada lelaki misterius itu untuk menyelamatkan ibunya yang masih tertindis tembok. Namun sayang, ketika keduanya telah berhasil dievakuasi ke tempat yang aman, kemudian lelaki itu balik ke tempat semula, ia sempat bertemu dengan ibundanya. Namun ibundanya hanya bisa berkata, tolong selamatkan saja anak dan cucuku. Biar saya di sini karena saya sudah ikhlas.

Menurut pengakuan ibu tiga orang putri ini, sebelum musibah datang, anaknya sekira pukul 14.00 Wita, pamit ke Kampus Universitas Tadulako (Untad). Ternyata Jumat kelam itu adalah hari terakhir bagi putri kesayangannya.

Ia mendapat kabar dari teman anaknya Mita, jika sejak pukul 16.30 Wita, mereka berdua pulang usai mengikuti kegiatan ekstra kulikuler di Fakultas MIPA Untad.

Mita mengaku, ketika guncangan gempa pertama kali, ia masih sempat berpelukan dengan Andini. Namun ketika tembok sekolah dan pohon di sekitar mereka rubuh dan tumbang, mereka terpisah.

Mita yang kala itu masih duduk di atas motor langsung memegang dahan pohon yang rubuh, sementara Andini tak lagi ia ketahui, karena saat itu kondisinya sudah mulai gelap dan amukkan pembuburan tanah makin dahsyat.

Ia masih sempat melihat rumah-rumah warga bergeser ke kiri dan kanan serta ada yang masuk ke dalam tanah.

Kepedihan Hernawati, karena sampai saat ini jasad anak gadisnya yang berusia 19 tahun itu belum juga di temukan. Hernawati hanya bisa pasrah dan ikhlas, meski tak pernah terlintas dalam benaknya jika putrinya harus pergi bersama amukan likuifaksi.

Menurut Hernawati, ia tak pernah berhenti berdoa. Bahkan setiap hari Jumat, sebagian waktunya diluangkan untuk datang ke lokasi Perumnas, guna membacakan doa baik buat sang ibu, anaknya serta kepada korban yang lain.

Hanya ini yang biasa ia lakukan, di setiap shalat tahajud dan istikharah sembari memohon kiranya diberikan petunjuk agar bisa di pertemukan dengan putri sulungnya itu.

Bagi Hernawati, ketika waktunya datang, semua kita yang berada di muka bumi ini akan berpulang. Kita tidak akan pernah tahu kapan ajal akan menyapa. Semua murni rahasia dari Sang Pencipta.

Meski rasa rindu dan sayang itu, akan selalu bersemayam dalam jiwa-jiwa kami yang ditinggalkan, sakitnya kehilangan tidak akan pernah pudar walaupun waktu terus berputar berulang-ulang.

“Alfatihah, buat mamaku tersayang, Hj Nurmi Nurdin dan surgaku bidadariku Andini “Dhika” Paramudita, papar Hernawati dengan linangan air mata yang membasahi kedua kelopak matanya. [***]

Penulis; Agus Manggona

(Visited 821 times, 1 visits today)
Bagikan Tulisan ini :

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*