Deny Ramadhan yang hingga saat ini tidak pernah menemukan jasad istrinya Anita Amelia (kanan) setelah rumahnya diterjang gempa dan likuifaksi di Kelurahan Balaora, pada 28 September 2018 lalu. [Ist]

Curhat Korban Likuifaksi, Deny: Anita Sayang, Begitu Cepat Kau Tinggalkan Diriku…

Palu, Jurnalsulawesi.com – Deny Ramadhan menatap wilayah kompleks Perumnas Balaroa yang luluh lantak karena digulung likuifaksi, beberapa saat setelah gempa magnitudo 7,4 SR mengguncang Kota Palu, pada Jumat 28 September 2018 lalu.

Atap-atap rumah tampak rata dengan tanah bercampur lumpur. Jalanan pun ibarat jurang-jurang kecil yang menganga. Perumnas Balaroa hilang bak ditelan bumi. Rumah-rumah terjerembab dalam patahannya.

Saat menapaki kembali lokasi Perumnas, Deni menatap getir sembari mengenang jalanan yang setiap hari ia lalui untuk menuju ke rumahnya itu.

“Semua tinggal kenangan. Tak ada canda tawa, harmonisasi dan kebahagiaan. Semuanya sirna,” kata Deny Ramadhan.

Meski Deny terlihat tegar, namun dari tatapan matanya, tersimpan rona-rona kepedihan yang sangat mendalam. Sebab musibah itu, tidak hanya mengubur mimpi-mimpi indahnya dalam membangun mahligai rumah tangga bersama sang istri Anita Amelia, Ibunya Vony Tanjung pun harus meninggalkannya.

Pemandangan Perumnas Balaroa, pada Sabtu (29/9/2018) pagi, setelah diterjang gempa, likuifaksi dan kebakaran pada Jumat (28/9/2018) petang. [Ist]

Matanya menerawang saat bercerita. Di tengah terik matahari Palu yang menyengat, Deny hanya bisa mengeryitkan dahinya. Ia hanya bisa mengungkapkan isi hatinya melalui goresan kata, Anita sayang, Jumat kelam itu, bertepatan dengan hari pernikahan kita. Tujuh tahun kita menjalin bahtera rumah tangga, bahkan sebelum musibah itu datang, dirimu sedang mengandung 2 bulan anak kita, namun Allah berkata lain. Ohhh… istriku sayang, begitu cepat engkau tinggalkan diriku.

“Ya Allah terima kasih engkau telah menemukan jodohku semoga dengan jalan ini istri tersayangku bisa bahagia. Semoga kamu tenang sayang di alam sana Aamin,” cetus Deny Ramadhan dengan penuh percaya diri.

Anita sayang, Allah mempertemukan kita, Allah pula yang memisahkan kita. Doakan suamimu agar menjadi suami yang sholeh, biar aku bisa menuntut hak ku buat berpasangan denganmu di akhirat nanti untuk selamanya.

“Cuma Allah yang tahu seberapa besar apa yang aku rasakan ke kamu sayang. I love You Anita,” papar Deny.

Saat gempa datang kata Deny, ia dan istrinya sedang bersama dalam rumah, namun saat gempa yang diserta likuifaksi menerjang, istrinya yang salah satu ASN di Dinas Penataan Ruang Pemkot Palu ini terjebak di balik reruntuhan. Ia tak bisa menyelamatkan diri, tembok-tembok rumah ambruk, sehingga menghalangi niatnya untuk keluar dari zona merah.

Yang membuat pedih bagi Deny, jasad istrinya sampai saat ini belum juga di temukan. Kehilangan seseorang memang sangat menyakitkan, terlebih lagi istri tercinta. Saya sudah ikhlas, sebab Allah lebih sayang kepadanya. Ia hanya bisa berharap, kelak di surga bisa dipertemukan kembali dengan istri tercintanya.

Menurut Deny, meski pernikahan mereka berdua hanya sesaat, namun kebahagiaan yang dirasakan sungguh luar biasa.

Deny pun kembali menerawang. Matanya fokus melihat sebuah tiang bendera yang berdiri di tengah reruntuhan. Namun, pandangannya kosong.

“Nasib manusia memang tak ada yang tahu, jodoh, rezeki dan kematian menjadi diantara rahasia Tuhan. Manusia hanya bisa berusaha, sementara Tuhan yang menentukan. Termasuk juga menjadi ketetapan Tuhan ketika manusia harus menghadap sang Khalik,” pungkasnya. [***]

Salah satu sudut kompleks Perumnas Balaroa sebelum diterjang gempa dan likuifaksi. [Ist]

(Tulisan ini berdasarkan ungkapan Deny Ramadhan setelah melalui penyuntingan)

 

Penulis : Agus Manggona

(Visited 244 times, 1 visits today)
Bagikan Tulisan ini :

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*