Fitriani Saputri Marhum saat berziarah ke makam Almarhum Yunus Djanggola. [Ist]

Likuifaksi Itu Telah “Merampas” Kabahagiaan Kami 

Goresan Hati Fitri, Istri Alm Yunus Djanggola
Jurnalsulawesi.com – Lima bulan sudah gempa bumi dan likuifaksi meluluhlantakkan Perumnas Kelurahan Balaroa Kecamatan Palu Barat. Kepedihan mereka yang menyaksikan kehancuran dan kehilangan orang-orang yang dicintai, menyisakan kisah-kisah nestapa

Fitriani Saputri Marhum salah satu korban yang merasakan itu. Ia dan Al putra semata wayangnya hanya bisa meneteskan air mata, saat duduk diatas gundukan tanah bekas bangunan rumahnya yang tertelan bumi. Kebahagiaan yang selama ini di bangun telah di rampas oleh gempa dan likuifaksi.

Kala itu, ia cukup lama melamun. Masih terkenang di benaknya masa-masa indah yang penuh kebahagiaan saat masih bersama sang suami Moh Yunus Djanggola, putrinya Syifa serta ibunya Fatmawati Timumun. Tidak heran jika baginya, gempa dan likuifaksi adalah momok yang menakutkan

Kepada penulis, Fitri mengungkapkan entah dari mana harus memulai menceritakan kegundahan yang dialami. Sebab air matanya terus saja menetes tak berhenti bila mengingat kembali kejadian naas itu. Ia berulang-ulang harus menarik nafas guna mengatur irama jantungnya yang berdetak lebih kencang dari biasanya. Bahkan sesekali tangannya mengambil tisue untuk menghapus air matanya.

Menurut Fitri, Yunus Djanggola adalah sosok yang diteladaninya. Karena selain menjadi papa dan mama, ia juga yang mengajarkannya apa artinya berbagi. Bagi Fitri, Yunus sosok suami yang sempurna, tak ada cela. Lelaki yang penuh perhatian, kasih dan sayang serta tahu bagaimana cara membahagiakan istri dan anak-anaknya.

Masa-masa bahagia Fitriani Saputri Marhum bersama Almarhum Yunus Djanggola. [Dok pribadi]

Fitri menyadari, tiga minggu sebelum musibah itu datang, perangai serta prilaku suaminya mulai ada perubahan. Kebiasaannya yang usai shalat dan mengaji, langsung membuka handapone tidak lagi ia lakukan. Biasanya, Yunus langsung duduk di ruang tamu, lalu mengotak-atik HP-nya.

Melihat perubahan sang suami, mengudang rasa penasaran Fitri untuk bertanya. Tepatnya Senin 24 September 2018 usai ba’da Dzuhur, di tempat biasa, Fitri duduk di samping kanan sang suami. Fitri lalu bertanya, papa Ode panggilan sayang Fitri, kenapa sekarang banyak diam.

Jika ada masalah ceritakan dong Pa, saya-kan istrimu. Saat itu, Yunus hanya menjawab, bahwa ia ingin sendiri tanpa menatap wajah sang istri.

Mendapat jawaban yang tidak memuaskan, Fitri kembali bertanya, Papa Ode, sayang Mama ? Sontak Yunus langsung merubah posisi dudukunya, lalu keduanya saling menatap.

Fitri mengaku, ia melihat wajah suaminya pucat serta ada guratan kesedihan yang terpancar. Dengan suara yang bergetar, suaminya berkata, kenapa mama bertanya seperti ini.

“Tanpa perlu saya ungkapkan, mama sudah tahu bagaimana rasa sayangku, begitu juga buat anak-anakku, dengan suara bergetar,” kata Fitri mengulangi ungkapan suaminya.

Yunus juga sempat mengatakan, bahwa Fitri tahu, selama mereka berdua pergi Umroh, sampai detik ini apa yang ada di sujudku? Fitri tidak tahu kan yang saya minta sama Allah, ampuni segala dosa-dosaku, dosa kedua orang tuaku serta keluargaku.

Bahkan kata Yunus, ketika itu ia pun meminta kepada Allah, untuk menjadikan istri dan anak-anaknya menjadi anak yang sholeh dan sholehah.

Dan salah satu doa suaminya yang tak bisa dilupakan Fitri, adalah “Yaa Allah, matikan hamba dalam keadaan husnul khotimah di hari Jumat, namun izinkan hambamu juga untuk berhaji dulu yaa Allah. Berikan hamba dan keluarga hamba kesehatan serta jodoh bukan hanya didunia tapi di akhirat dan jauhkan dari fitnah dajjal”.

“Bait-bait doa suamiku ini yang tak pernah hilang dari ingatanku,” Kata Fitri.

Ditambahkan Fitri, dalam doanya Yunus tidak meminta umur yang panjang, sebab menurutnya untuk apa umur panjang jika harus sakit-sakitan. Yang dia minta hanyalah kesehatan, karena katanya Allah sudah menentukan takaran rejeki, tinggal kita sebagai hambanya yang selalu ikhtiar. Jodoh dan mati sudah menjadi ketetapan dan polpen Allah sudah menuliskan jauh sebelum kita dilahirkan.

Menurut Fitri, saat itu tak ada sedikit pun fiasat jika Yunus akan pergi untuk selama-selamanya. “Cuma sempat dia mengeluarkan kalimat, jika harus memilih, sebaiknya saya yang duluan meninggal,” cetus Fitri.

Suaminya juga sempat mengatakan, ia akan mengirimkan amalan-amalan saat menghadapi kematian melalui WhatsApp.

Karena kematian itu menurut Yunus tidaklah mudah. Yunus lalu berdiri dan bergegas menambil Hp-nya. Ia juga berpesan kepada Fitri, untuk tidak putus wuduh baik saat keluar rumah maupun hendak tidur. “Dan tolong Fit, jangan lagi tanyakan soal bagaimana sayangku sama kau,” tambah Fitri yang mengakui jika hari Senin itu mereka berdua sudah saling memaafkan.

Fitri yang juga PNS Dinas Kesehatan ini mengaku, memang satu minggu sebelum kejadian, ia meminta izin akan melakukan perjalanan dinas ke Kabupaten Buol. Anehnya, Yunus menolak dan tidak mengizinkan dengan alasan ia tidak mau ditinggalkan karena kurang sehat.

“Jujur selama kami membina rumah tangga, baru kali ini Yunus tidak mengizinkan saya,” kata Fitri.

Prilaku Yunus tidak seperti biasanya, dia begitu manja dan suka cari perhatian. Bahkan selalu ingin berfoto bersama, yang notabene dia tidak begitu suka selfie-selfie kecuali dipaksa. Kejanggalan lain kata Fitri, satu minggu sebelum kejadian seluruh dokumen penting manyangkut kwitansi dengan mitra kerjanya di foto dan diberi keterangan tinggal menunggu pencairan.

Ia juga sempat menuturkan kepada kakakku atau iparnya, jika dirinya insya Allah dengan kwitansi ini, Fitri dan anak-anakku tidak akan susah.

“Mungkin Yunus sudah memiliki firasat, sehingga dia bicara seperti. Alhamudillah, handpone suamiku masih bisa ditemukan di antara reruntuhan rumah,” cetus Fitri.

Ditambahkan Fitri, Jumat kelam 28 September 2018 sebelum musibah itu datang, Yunus masih sempat pamit dan keluar untuk beli mobil dan menyelesaikan urusannya. Setelah ia kembali, masih sempat berbincang. Hanya lima kata yang keluar dari mulutnya seperti akan hancur saya

Menjelang adzan Magrib kata Fitri, ia bersama ibu dan anaknya Syifa di ruang tamu, sementara Al anak bungsunya di dalam kamar karena sedang minum susu. Yunus sendiri telah usai mengambil air wudhu dan hendak ke Masjid.

Namun baru mau mengambil wudhu, kata Fitri gempa mengguncang. Yunus yang kala itu, hendak keluar rumah, kembali masuk untuk menyelamatkan ibunya, Syifa serta ia dan Al. “Fitri cepat keluar selamatkan Al,” perintah Yunus kepadanya.

Saat guncangan makin dasyat, Yunus terus meminta agar dirinya keluar. Fitri masih sempat melihat, suaminya memeluk ibunya dan Syifa. Terdengar suara ibunya dan Yunus, yang menyebut Laaillahaillallah, Allahhu Akbar.

Fitri dan Al terus berupaya mencari tempat yang aman, sambil terus memohon bantuan dan perlindungan Allah.

Pintu rumah saat itu tidak bisa terbuka dan tanah terus bergerak. Ia hanya meminta kepada Al anaknya, untuk tetap memeluk. Di tengah kepanikan dan rasa takut, terdengar suara suaminya yang terus mengumandangkan takbir, Allahu Akbar, sambil meminta agar Fitri cepat keluar.

Tiba-tiba pintu rumah terbuka. Baru satu langkah keluar, tiba-tiba rumah ambruk yang terlihat hanya bumbungan atapnya.

Sontak dirinya langsung shock, tangis tak terbendung lagi karena mengetahui ibu, suami dan putrinya masih berada dalam rumah.

Likuifaksi yang memblender dan menggeser letak rumah sekira 50 meter dari posisinya. Rumahnya terpisah menjadi dua bagian dan sebagian masuk ke dalam tanah.

Fitriani Saputri Marhum bersama almarhumah putrinya Syifa dan almarhumah ibunya. [Dok/keluarga]

Alhamdulillah, empat hari Tim Basarnas melakukan evakuasi, Yunus, Ibunya dan Syifa berhasil dievakuasi dengan kondisi ketiganya masih berpelukan.

Dalam pengakuannya, semula Fitri tidak mengetahui, jika suaminya telah berhasil dievakuasi oleh Tim Basarnas dan relawan Habib Saleh Al Idrus.

Informasi ini pun dikuatkan dari keterangan tetangganya Jemy Gerson dan Andika, salah seorang pegawai Kelurahan Balaroa. Bahkan sebelum dimakamkan, di pekuburan Balaroa, ketiganya dishalatkan oleh Habib Saleh atau yang biasa disapa Habib Rotan.

“Al Fatihah, buat Yunus suamiku, mamaku tersayang, serta bidadariku Syifa,” tutup Fitri. [***]

(Tulisan ini berdasarkan penuturan Fitriani Saputri Marhum setelah melalui penyuntingan)

 

Penulis; Agus Manggona
Editor; Sutrisno

(Visited 1.921 times, 1 visits today)
Bagikan Tulisan ini :

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*