Susilo Bambang Yudhoyono.

Lima Pernyataan SBY Kuak Penyebab Gagalnya Merapat ke Jokowi

Jakarta, Jurnalsulawesi.com – Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memastikan bahwa internalnya tidak akan merapat ke dalam barisan koalisi Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) di Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 mendatang.

Hal tersebut disampaikan langsung oleh SBY kepada awak media dikediamannya setelah bertemu dengan Ketua Umun Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan, Rabu (25/7/2018).

Setidaknya ada lima pernyataan SBY yang cukup mengejutkan di balik gagalnya partai berlambang mercy itu ke dalam barisan Jokowi.

1. Hubungannya dengan Megawati
SBY mengakui salah satu faktor yang menjadi penghalang Demokrat adalah hubungannya yang kurang bersahabat dengan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri. Berawal ketika dirinya menjabat sebagai Menko Polkam di era Kabinet Gotong Royong, yang kala itu Megawati menjadi presidennya.

Kerenggangan mereka mencuat dari pencalonan SBY sebagai calon presiden di Pemilu 2004.

Meskipun, disisi lain, Presiden keenam Indonesia itu mengaku memiliki hubungan kedekatan yang baik dengan sosok Jokowi. Sebab itu, SBY menyebut, ada hambatan yang membuatnya tidak masuk ke dalam barisan koalisi Jokowi.

2. “Kemesraannya” Bersama Jokowi Jelang Pemilu
Menjelang Pemilu 2019, SBY mengklaim bahwa menjalin komunikasi politik yang intensif dengan Jokowi. Hal itu, membahas seputaran kemungkinan untuk membentuk koalisi di pesta demokrasi lima tahunan tersebut.

Jokowi, klaim SBY, berusaha untuk mengajak Demokrat masuk ke dalam barisannya. Bahkan, SBY menyebut, Jokowi beberapa kali mengajak Demokrat untuk masuk ke dalam pemerintahan dewasa ini.

3. Dirayu Jokowi Kursi Menteri
SBY mengklaim bahwa Jokowi sempat merayu dirinya untuk masuk ke dalam pemerintahan dan koalisi Pemilu 2019. Bahkan, SBY menyatakan, Jokowi menawarkan kursi kabinet apabila Demokrat menjadi barisannya.

Namun, kata SBY, dalam setiap pertemuannya dengan Jokowi, dirinya selalu menanyakan apakah partainya bisa diterima dengan partai lainnya yang ada di dalam koalisi.

Berjalannya waktu, SBY merasa bahwa, partai koalisi di Jokowi tidak bisa menerima kehadiran partai berlambang mercy itu. Oleh karenanya dia memutuskan untuk tidak merapat ke koalisi Jokowi.

4. SBY Beri Peringatan ke Ketum PPP
Setelah menyampaikan bahwa Demokrat tidak bergabung ke koalisi Jokowi. SBY pun memperlihatkan kegeramannya ke Ketua Umum PPP Romahurmuziy (Romi).

SBY pun memberikan peringatan ke Romi untuk berhati-hati dalam memberikan komentar. Dirinya tersinggung dengan Romi lantaran pernyataannya soal gagalnya Demokrat bergabung ke Jokowi lantaran ditolaknya Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai cawapres Jokowi.

5. SBY Ultimatum Ali Mochtar Ngabalin
Selain Ketua Umum PPP, SBY juga menyindir sosok dari Tenaga Ahli Kedeputian IV Kantor Staf Kepresidenan, Ali Mochtar Ngabalin. Menurutnya, pernyataan politikus Golkar itu telah membuat gaduh dan tak sesuai fakta.

SBY geram lantaran pernyataan Ngabalin terkait, SBY harus meminta izin pada Presiden Jokowi bila Partai Demokrat tak mendukung Jokowi di Pemilihan Presiden 2019. Padahal, kata SBY, dirinya bukanlah bawahan dari Jokowi.

Sebab itu, SBY menegaskan, kalau tidak ada hambatan dengan Jokowi untuk memulai koalisi. SBY memastikan hubungannya dengan Jokowi baik-baik saja. [***]

 

Sumber; Okezone

(Visited 43 times, 1 visits today)
Bagikan Tulisan ini :

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*