Trio diplomat RI pertama Agus Salim, AR Baswedan, HM Rasyidi saat berbincang untuk melobi pemerintah Mesir sebagai negara pertama di dunia yang mengakui kedaulatan Indonesia.

‘Mbek’ dan Ejekan Musso Soal Jenggot Kambing Agus Salim

Oleh: Benny Ohorella
Haji Agus Salim, laki-laki asal Sumatra Barat lahir dengan nama asli Mashudul Haq (Pembela Kebenaran), betul-betul nama yang tidak keliru. Beliau adalah keponakan ulama terkenal Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabauwi, salah satu imam mazhab Syafi’i di Masjidil Haram, Makkah. Kepada Syaikh Ahmad Khatib ini pula pendiri NU dan Muhammadiyah, KH Hasyim Asya’ari dan KH Ahmad Dahlan pernah menuntut ilmu, begitu juga salah satu ulama besar kita, Buya Hamka.

Kalau mau baca sejarah, kisah H Agus Salim dipanggil ‘mbek’ ketika akan berpidato itu sebenarnya terdokumentasi apik. Salah satu pendiri bangsa dan mantan perdana menteri pertama RI, Sutan Syahrir, adalah yang mengakui dan melihat langsung kejadian itu. Kisah Syahrir ini diceritakan oleh penulis Belanda, Jef Last, dalam buku 100 tahun H Agus Salim.

Dan cerita itu pun sebenarnya belum selesai sepenuhnya. Ini karena H Agus Salim masih mempersilakan mereka (Sutan Syahrir dkk) untuk masuk lagi sebelum mereka ke luar dari ruang pertemuan yang penuh dengan ejekan tersebut. Menurut Salim, Syahir itu bisa masuk ke rungan bila pidatonya dalam ‘bahasa manusia’ sudah selesai.

“Saya menguasai banyak bahasa”, kata H Agus Salim kepada Syahir yang hendak ke luar dari ruangan. Kala itu semua orang dan para aktivis pemuda tahu dan mengakuinya bahwa dia sebagai seorang yang fasih berbicara dalam berbagai bahasa asing (polyglot). Namun entah mengapa, saat itu Agus Salim mengatakan juga mampu bicara dalam ‘bahasa kambing’.

“Jadi kalau kalian telah selesai merumput, silakan masuk lagi untuk mendengar pidato saya dalam bahasa kambing,” ujar Salim.

Dan memang saat itu, para peserta pertemuan tengah sibuk mengeluarkan yel-yel ejekan ‘mbek’ kepada Salim. Sebagai sosok biang keladi keluarnya ejekan itu asal-usulnya dilakukan oleh Musso, yang kemudian setelah PKI berdiri menjadi tokoh PKI dan memimpin pemberontakan di Madiun tahun 1948.

Nah, pada forumnya yang kala itu dimaksudkan sebagai forum diskusi atau rapat yang dilakukan SI (Syarikat Islam) membahana dengan teriakan pejoratis alias tak mengenakan. Dan bila dikaji lebih detail lagi, keluarnya ejekan kepada Agus Salim tersebut muncul di tengah suasana memanasnya persaingan dan keretakan Syarikat Islam, yang akhirnya terbelah menjadi dua, yakni menjadi SI Merah dan SI Putih). SI Merah yang induk organisasinya berpusat di Semarang itulah yang kemudian beralih wujud di tahun secara bertahap sebagai Partai Komunis Indonesia (PKI).

Konflik antara HOS Cokroaminoto dan H Agus Salim memang kala itu terjadi dengan Musso yang merupakan generasi muda SI. Menurut Musso, kala itu SI sudah tidak progesif revolusioner karena dipenuhi kaum tua. Generasi muda, seperti Musso dan kawan-kawannya, ingin merebut pucuk pimpinan SI dari tangan HOS Cokroaminoto yang kala itu dibela H Agus Salim.

Bila ditilik lagi, strategi untuk merebut SI terjadi diotaki tokoh komunis asal Belanda, Sneevliet. Pada periode menjelang kongres keenam Sarekat Islam pada tahun 1921, anggota SI seperti H Agus Salim menyadari strategi Sneevliet tersebut. Agus Salim, selaku sekretaris organisasi SI, kemudian memperkenalkan sebuah gerakan untuk menghalanginya. Dia mengeluarkan larangan bagi anggota SI untuk memegang keanggotaan dan gelar ganda.

Tentu saja, keputusan Salim tersebut membuat para anggota komunis kecewa dan keluar dari partai, seperti oposisi dari Tan Malaka dan Semaun. Mengutip Wikipedia, pada saat yang sama, pemerintah kolonial Belanda menyerukan tentang pembatasan kegiatan politik. Kepada Sarekat Islam, pemerintah Hindia Belanda memutuskan untuk lebih fokus pada urusan agama, meninggalkan komunis sebagai satu-satunya organisasi nasionalis yang aktif. (Kala itu SI memang sudah terjadinya ada perpecahan karena ada infiltrasi paham komunis yang kemudian dengan berdiri SI Merah).

Nah, suasana persaingan keras dan panas terbawa pada pertemuan SI tersebut. Pada saat itu Musso naik podium dan dalam pidatonya ada kalimat yang menyindir soal pemipinan SI yang tengah dijadikan bulan-bulanan ejekan dengan berbagai tuduhan, misalnya HOS Tjokroaminoto (sebagai orang yang menggelapkan keuangan organisasi) dan H Agus Salim yang terus gigih membelanya. Nah Muso geram betul kepada kedua sosok pemimpin SI. Maka pada forum itulah dia memandang sebagai waktu yang tepat untuk mengejek dan mendelegitimasikan keberadaan Agus Salim.

“Yang berjenggot apa saudara-saudara?” tanya Muso ketika berpidato di atas podium.

Menjawab pertenyaan tersebut, hadirin dari SI Merah ramai-ramai berteriak, “kambing!”.

“Kalau yang berkumis?”, hadirinpun lalu ramai menyahut, “kucing!”.

Mendengar ejekan itu, H Agus Salim membalasnya ketika giliran naik panggung. Dari atas podium ketika berpidato dia pun bertanya balik bertanya pada hadirin, “Tadi hewan-hewannya kurang lengkap, apa yang tidak berkumis dan tidak berjenggot (kebetulan Musso tidak berkumis dan berjenggot)?”

Mendengar pertanyaan dari H Agus Salim yang berdiri di atas podium, hadirin ternyata lebih riuh menyahut, “anjing!”

Nah, kecerdasan Salim dalam berdebat dan berpidato, belakangan ramai menjadi kontroversi dan ditudukan sebagai penghinaan ketika kisah ini diceritakan kembali oleh sosok seperti Rocky Gerung. Padahal ini membuktikan bahwa Agus Salim yang memang hanya lulusan sekolah setingkat SMA pada zaman kolonial itu, terbukti piawai beretorika dan bermetafor.

Kecerdasan yang dibalut keberanian itulah, sesuai arti dari nama lain dengan sebutan ‘Mashudul Haq tersebut. Dan kecerdasan Agus Salim yang pernah dipuji RA Kartini sehingga sampai merelakan posisinya sebagai pengganti penerima bea siswa sekolah ke Belanda, terbukti tidak surut walaupun berhadapan dengan ‘bule’ Belanda.

Pengetahuan Salim yang luas dan penguasaannya pada banyak bahasa membuatnya bisa menjawab perdebatan secara lugas ketika di Volksraad (parlemen Hindia Belanda) seorang Belanda mengejek Salim ketika menggunakan kata “Ekonomi”. ‘Si bule’ mengatakan bahwa itu bukan bahasa Melayu, jadi sebaiknya oleh Agus Salim kembali berbahasa Belanda, bahasa resmi Volksraad waktu itu.

Mendengar pertanyaan angota Volksraad yang asal Belanda itu, H Agus Salim lalu menyahut. Katanya, “Saya akan ganti pemakaian kata Ekonomi kalau tuan juga sudah menyampaikan keluhan dengan menyebutkan Ekonomi dengan bahasa Belanda”.

Tentu saja ‘si Belanda’ itu terdiam mendengar jawaban balik H Agus Salim. Ini karena memang kata ‘ekonomi’ memang berasal dari bahasa Perancis (setelah sebelumnya menyerap dari bahasa Yunani oikonomia). Jadi kata ‘ekonomi’ yang ada dalam bahasa Belanda dan bahasa Melayu sama menyerapnya dari bahasa asing, yakni Yunani.

Memang itulah kisah sosok H Agus Salim yang cerdas dan berjanggut yang dahulu diejek Muso sebaga kambing. Dan di sini kemudian semua tahu betapa H Agus Salim tidak ‘marah’ atas ejekan itu serta membalikannya dengan argumen yang cerdas. Ini juga menjadi bekal generasi Indonesia ketika hendak menjadi diplomat, politisi, atau pemimpin tak perlu marah-marah.

Di kemudian hari, nasihat diplomasi ala H Agus Salim diteruskan oleh mendiang mantan menteri luar negeri dan mantan Wakil Presiden Adam Malik. Nasihatnya, dalam debat dan diplomasi semua itu harus lentur dan dibicarakan baik-baik. Katanya: ‘’Itu semua bisa diatur!’’ [***]

(Artikel ini sebelumnya sudah dilansir Republika.co.id)

(Visited 20 times, 1 visits today)
Bagikan Tulisan ini :

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*