Sejumlah pekerja tengah menyelesaikan pekerjaan pada pada proyek pembangunan Sabo Dam Sombe, padahal proyek tersebut sudah di PHO pada 14 Desember 2012, (Gambar diambil pada 16 Desember 2012). Foto:Ist

Proyek DAM Sombe Diduga Sarat Masalah

*Diduga Ada Kerugian Negara di Proyek Tanggul
Sungai Palu
Palu – Proyek pembangunan Sabo Dam Sombe yang dilaksanakan SNVT Pemanfaatan Jaringan Sumber Air (PJSA) Sul III, di lingkup Balai Wilayah Sungai Sulawesi (BWSS) III, dalam pengerjaannya diduga sarat masalah.Pasalnya, proyek yang menelan anggaran senilai Rp7.651.961.000,- yang menggunakan dana APBN 2012 tersebut, pada pembuatan bronjongnya tidak dikerjakan langsung ditempat posisinya atau di dasar sungai. Tetapi, bronjong dirangkai atau dibuat diluar sungai, yang kemudian diangkat menggunakan alat berat yakni exapator, untuk diletakkan di dasar sungai. Dengan demikian, kekuatan bronjong akan berkurang karena terjadi goncangan pada saat pengangkutan.

“Cara pembuatan seperti itu bisa mengurangi kekuatan bronjong karena pasti goyang. Cara seperti itu rawan ambrol (terbongkar-red). Beda, kalau bronjong dirakit langsung di dasar sungai sesuai letak bronjong ditempatkan,” ujar sumber yang enggan namanya di korankan.

Selain itu, dari hasil investigasi di lapangan  juga ditemukan bahwa proyek tersebut sudah di PHO pada 14 Desember 2012, tetapi hingga 18 Desember 2012 di lokasi proyek masih berlangsung pengerjaan proyek tersebut.

Dengan masih adanya kegiatan setelah di PHO, ada dugaan menaikkan volume pekerjaan dalam laporan, yang tidak sesuai dengan fakta di lapangan. Karena itu, untuk menyesuaikan dengan laporan pekerjaan tersebut, tetap masih dikerjakan meskipun sudah di PHO.

“Mestinya kalau sudah di PHO tidak ada lagi kegiatan di lokasi. Dengan adanya dugaan menaikkan volume dalam laporan, berarti ada kerugian negara didalamnya,” terang sumber.

Persoalan lainnya pada proyek tersebut yakni tidak pernah dilakukan running test (uji coba) sebelum di PHO. “Bagaimana diketahui bisa berfungsi dengan baik, kalau tidak dilakukan uji coba. Ini menunjukkan banyak masalah pada proyek tersebut,” jelas sumber.

Sementara itu, Kepala Satker SNVT PJSA Sul III, Untung B Wigianto,ST,M.Si yang dikonfirmasi pekan lalu membantah adanya dugaan-dugaan tersebut. Menurutnya, proyek tersebut sudah dikerjakan sesuai dengan ketentuan. Untung mengatakan, pemasangan bronjong dengan cara diangkat menggunakan alat berat, karena lokasinya tidak memungkinkan dilakukan pemasangan di dasar sungai.

“Bagaimana mungkin mau pasang bronjong di dasar sungai kalau arusnya deras. Itu kan berbahaya dan bisa menimbulkan korban jiwa pekerja,” ujar Untung saat ditemui di ruang kerjanya.

Terkait dengan setelah di PHO masih ada kegiatan di lokasi proyek, Untung mengakui hal tersebut. Tetapi hal itu kata Untung, karena masih dalam masa perawatan. Namun Untung membantah adanya menaikkan volume dalam laporan.

“Memang masih kegiatan di lokasi setelah di PHO, tapi itu bagian dari masa perawatan. Tidak ada itu yang namanya menaikkan volume dalam laporan,” ujarnya membantah.

Sementara terkait tudingan semua proyek di lingkup PJSA Sul III yang tidak dilakukan running test sebelum di PHO, Untung juga membantahnya. Dikatakannya, semua proyek di lingkup satkernya memang tidak perlu dilakukan running test, karena sudah running test secara alami.

TANGGUL SUNGAI PALU
Selain proyek pembangunan Sabo Dam Sombe, proyek lain di lingkup Satker PJSA Sul III yang diduga juga menimbulkan kerugian negara yakni robohnya pekerjaan tanggul sungai Palu, tepatnya di sekitar jembatan Ponulele (Palu IV) pada 2011 lalu. Proyek yang menelan anggaran sekira Rp3 miliar lebih tersebut roboh sepanjang sekira 50 meter pada tahun yang sama dengan proyek pengerjaanya.

Untuk membenahi tanggul yang roboh tersebut, diduga dilaksankan dengan menggunakan anggaran proyek tanggul di sekitar jembatan Palu II (jembatan Tatura), dengan cara mengurangi volume, sesuai robohnya tanggul jembatan IV.

Dengan dibagun kembali tanggul yang roboh, maka diduga pengerjaan tanggul di sekitar jembatan Palu II tidak sesuai
dengan yang seharusnya atau berkurang sepanjang 50 meter.

Untung B Wigianto juga membantah dugaan tersebut. Menurutnya, proyek tersebut masih satu paket. “Tidak ada itu pengalihan anggaran dan pengurangan volume. Karena proyek tanggul sungai Palu semuanya satu paket,” pungkasnya.

Dari informasi yang dihimpun menyebutkan, pengalihan anggaran yang diduga merugikan negara tersebut tengah dalam penyidikan Tipikor Polda  Sulteng.

Namun hingga saat ini belum diperoleh konfirmasi sejauh mana hasil penyidikan tersebut. [Trs]

(Visited 20 times, 1 visits today)
Bagikan Tulisan ini :

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*