Sandiaga S. Uno

Sandiaga Uno, Bukan Sekedar Lip Balm

Oleh; Dr. Rahmad M Arsyad
SANDIAGA Uno, bukan sekedar Lip Balm yang melengkapi bibir tegas Prabowo yang selalu terdengar bersuara keras dan lantang. Pria kelahiran 29 Juni 1969 itu, kini menjadi fokus perhatian nasional setelah berhasil bermain cantik diantara tarikan kepentingan barisan koalisi Prabowo.

Ibarat pepatah Bugis, “Sekali layar Terkembang, Pantang Surut ke Pantai” itulah Sandiaga Uno. Dengan usia yang belum melewati 50 tahun, Sandiaga yang awalnya diragukan kemampuannya di arena politik dalam waktu kurang dari lima tahun pasca bergabung dengan Partai Gerindra kini telah tampil menjadi calon wakil presiden.

Berawal dari perbincangan dan ajakan Prabowo setelah kalah pada Pilpres 2014, untuk bergabung dengan partai yang dipimpinnya, lalu berlanjut dengan pembuktian Sandi pada Pilkada Jakarta 2017, yang berakhir manis dengan kemenangannya bersama Anis Baswedan.

Kini, sandiaga telah membuktikan dirinya bukan sekedar Lip Balm politik. Dirinya telah berhasil melakukan transformasi dari seorang pengusaha, menjadi politisi yang mampu berpikir realistis dan strategis dalam membaca momentum politik, serta tentu saja cukup piawai melihat arah angin politik yang sedang berhembus.

Bukan sekedar Lip Balm
Terlepas dari berita yang pernah heboh, soal kebiasaan mantan wagub DKI yang dibekali sang istri dengan Lip Balm, sebenarnya sandi bukan sekedar politisi pesolek.

Kelebihan atau modal bos PT Saratoga Advisor itu, menurut saya terdiri atas tiga hal. Pertama; kemampuan membaca momentum politik dan mengukur diri sendiri. Contoh kasus ini, sudah teruji dalam momentum politik pertarungan DKI.

Pada awalnya, Sandi ngotot dijagokan oleh Gerindra sebagai calon gubernur. Namun karena kemampuan membaca momentum politik dan kesadaran mengukur diri sendiri, untuk berhadapan dengan tokoh sekelas Ahok yang juga didukung oleh rezim berkuasa, akhirnya Sandi memilih mundur sebagai calon gubernur dan bersedia menjadi wakil gubernur dan mengantarkan Anis Baswedan sebagai seorang Gubernur.

Pada titik ini, saya mengakui kecerdasan dan kemampuan Sandi dalam membaca positioning, serta kemampuan untuk tetap berpikir rasional kalkulatif. Sebuah modal yang  jarang dimiliki oleh politisi muda dengan ambisi diri yang biasanya masih meluap-luap.

Kedua; sebagai politisi Sandi punya modal finansial yang besar. Tidak bisa dipungkiri sebagai seorang pengusaha sukses, Sandi adalah Calon Wakil Presiden yang paling siap secara finansial dibandingkan calon lain, bahkan melampaui kekayaan dua calon Presiden Prabowo dan Jokowi.

Suka ataupun tidak, era demokrasi langsung seperti saat ini modal finansial tidak bisa dipandang remeh. Untuk menjangkau pemilih di berbagai pulau di Indonesia, biaya sosialisasi dan berbagai hal yang berhubungan dengan kampanye, tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan saya melihat Sandi sangat siap, apalagi ditunjang dengan jaringan sejumlah group bisnis di belakangnya.

Kelebihan ketiga; yang dimiliki alumni Jurusan Business Administration Universitas George Washington, Amerika Serikat ini, adalah pengetahuan yang cukup pada bidang ekonomi global dan bisnis, serta kemampuannya berbicara pada isu-isu ekonomi mikro.

Sesuatu yang memiliki daya jual bagi Sandi melengkapi sosok Prabowo yang cenderung lebih senang berbicara berbagai narasi-narasi besar dan Issue ideologi yang kurang dipahami oleh rakyat kebanyakan.

Pada sisi inilah, menurut saya dalam banyak momentum, Sandi mampu menghadirkan narasi yang lebih sederhana dan dengan wajah tampanya memiliki daya tarik pada barisan emak-emak.

Tiga kelebihan inilah yang saya lihat dari diri seorang Sandiaga Uno, sekaligus menjadi modal yang jika diakumulasikan dengan baik bisa mendongkrak elektabilitas Pasangan Prabowo-Sandi yang bukan tidak mungkin, membuat pertarungan pemilihan Presiden tahun depan menjadi lebih seru.
Walau secara kalkulatif saat ini, elektabilitas Jokowi masih susah tertandingi.

Namun satu prinsip dalam politik senantiasa berlaku, tidak ada yang tidak mungkin dari politik, kecuali ketidakmungkinan itu sendiri.

Karena politik adalah seni kemungkinan dan Sandiaga Uno telah membuktikan pada dua pertarungan, baik di Pilkada Jakarta maupun persaingan cawapres Prabowo, bahwa dirinya mampu mengubah kemungkinan menjadi kesempatan. Karena Sandi, memang bukan sekedar polesan Lip Balm politik dari Prabowo. [***]

 

(Visited 39 times, 1 visits today)
Bagikan Tulisan ini :

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*