Adi Prianto

Tantangan Gerakan Buruh Bukan Hanya “Copras-Capres”

Oleh: Adi Prianto
Zulkifli Lamading adalah anggota dari Partai Rakyat Pekerja (PRP) Kabupaten Buol, pada laman online mereka menerbitkan tulisannya yang berjudul; Tantangan Gerakan Buruh Yang Menolak Dukung-Mendukung Capres 2019.

Pada tulisan yang dimaksud, Zulkifli Lamading memberikan kesimpulan bagi para pembacanya. Pertama, gerakan buruh dalam bentuk Konfederasi besar yang telah menyatakan mendukung pasangan Calon Presiden (Capres) 2019, Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) yang mendukung Prabowo Subianto, sementara Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) menyatakan sikap mendukung Jokowi. Ada kelompok ketiga mengambil opsi tidak mendukung siapapun, kelompok ketiga ini walau sama dalam pilihan politik Capres 2019 tetapi merupakan gerbong yang terpisah dan sukar akan menyatu; GEBRAK, FPR dan KOMITMEN.

Kedua, Zulkifli Lamading dalam tulisannya menegaskan bahwa politik elektoral seperti Pemilihan Capres 2019 adalah realitas politik dan menyeret semua kalangan untuk ikut terlibat di dalamnya, itulah yang menjadi kesimpulan bahwa masa luas masih percaya yang namanya Pemilihan Umum, “…sementara massa luas masih percaya terhadap Pemilu? “ tulis Zulkifli Lamading.

Sebenarnya saya ingin melihat klimaks dari tulisan yang dimaksud, namun paragraf terakhir dari tulisan bukanlah kesimpulan yang menjawab terhadap kesadaran mayoritas rakyat masih percaya Pemilu dan memberikan jalan keluarnya, tetapi meminta tanggapan dari para khalayak untuk sebuah pekerjaan respon gerakan buruh terhadap politik elektoral, untuk itu saya membuat risalah singkat ini.

Pun dengan segala keterbatasan dari saya, risalah saya hanya pada konteks politik, bagaimana organisasi mengelola atau merespon terhadap politik lima tahunan, juga pengalaman praktek saya selama ini yang bercebur diri menjadi advokat buruh dan turut serta membangun gerbong gerakan buruh di Sulawesi Tengah.

Mengenai pembangunan alat politik alternatif sebagai wadah ekspresi politik buruh pada momentum elektoral, semacam Partai Buruh yang ikut Pemilu tetapi tidak sama seperti pengalaman praktek Moktar Pakpahan melalui partai Buruh pada Pemilu 2004. Cita-cita yang dimaksud alat politik alternatif adalah partai yang tumbuh dari bawah dan diinisiatif dari kelompok pergerakan bisa dalam bentuk partai persatuan dan mengkanalisasi ekspresi politik kelas bawah, Zulkifli Lamading menggunakan istilah kaum buruh.

Gagasan alat politik alternatif, ia tidak berjalan dan berproses pada ruang hampa, dengan ucapan sim salabim langsung terbentuk alat politik alternatif dan menjadi partai peserta Pemilu. Pembangunan alat politik alternatif berada dialam kenyataan, yakni syarat dan standar yang ditentukan oleh rezim, melalui syarat Undang-Undang yang dibentuk oleh partai-partai peserta Politik yang melewati proses demokrasi yang bernama Pemilu, Zulkifli Lamading menyebut dengan istilah tradisi demokrasi ala borjuasi. Artinya pembangunan alat politik alternatif memiliki syarat internal, yakni kecakapan dan pengalaman.

Kecakapan yang dimaksud adalah kemampuan melihat realitas politik dan mengelolannya, dengan mengikuti logika Zulkifli Lamading bahwa terjun kedemokrasi ala borjuis akan terkontaminasi. Inilah yang saya maksud ambigu, satu sisi mengakui bahwa kesadaran mayoritas rakyat adalah Pemilu tetapi sisi lain organisasi justru tidak mengelola kesadaran rakyat dan realitas politik.

Tanpa kecakapan mengelola realitas politik dalam bentuk tindakan dan siasat politik akan membuat miskin pengalaman praktek serta memunggungi kenyataan.

Pengalamanlah yang memberitahukan kepada semua anak-anak pergerakan, bahwa pembangunan alat politik alternatif dibangun bersama-sama dengan kelompok pergerakan lain, kata sederhananya adalah persatuan. Adakah yang sanggup membangun dengan kelompoknya sendiri? Silahkan menghitung.

Saya juga merasa sangsi akan urusan dukung mendukung Capres 2019 menjadi tantangan tunggal gerakan buruh, sementara menutup mata dukungan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), dukungan yang terang-terangan, malu-malu dan atau menggunakan nama sendiri atau nama baru. Untuk urusan Pilkada, tidak hanya menjadi tiga golongan, tetapi menjadi golongan-golongan kecil, ada juga yang berani menjadi calon independent dari gerakan buruh itu sendiri. Inilah tantangan sesungguhnya, melinearkan antara panggung politik nasional dan sampai di daerah, terhadap apa yang dilakukan oleh organisasi buruh jika tidak mau disebut gerakan buruh.

Seberapa besar nilai tawar gerakan buruh dipanggung politik elektoral? Pertanyaan ini jika disodorkan kepada aktivis tentu akan menjawab ideal “lihat saja aksi-aksi mayday, jumlahnya ratusan loh!,” berbeda terhadap kebutuhan elektoral. Jawaban dari pertanyaan ini akan dikonversi menjadi jumlah suara berdasarkan Daftar Pemilih Tetap (DPT). Persoalan tekhnis seperti ini yang membuat banyak aktivis tidak bertemu dan berdebat berhari-hari.

Tidak heran, untuk urusan elektoral suara buruh secara individu lebih dekat dengan institusi-institusi patron diluar dari serikat buruh, seperti paguyuban daerah dan institusi keagamaan. Ia tidak utuh menjadi suara serikat buruh.

Kita pun harus memeriksa secara seksama dan detail apakah selama ini gerakan buruh sudah berada level politik untuk mempengaruhi panggung politik atau ekspresi politik muncul karena tuntutan-tuntutan yang bersifat ekonomistis dan masih sektoral?, inilah pekerjaan jangka panjang yang terus menerus kita periksa, tidak hanya pada gerakan buruh tapi gerakan sektoral lainnya.
Untuk menutup risalah ini saya mengutip tulisan Bung Karno, “Janganlah mengira kita semua adalah cukup berjasa dengan segitiga warna. Selama masih ada ratap tangis di gubuk-gubuk, pekerjaan kita belum selesai. Berjuanganlah terus dengan mengucurkan sebanyak-banyaknya keringat,“ sekian, terima kasih. [***]

(Penulis adalah Ketua PRD Sulawesi Tengah dan tulisan ini sebagai tanggapan terhadap tulisan Zulkifli Lamading)

(Visited 74 times, 1 visits today)
Bagikan Tulisan ini :

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*