Pebalap Monster Energy Yamaha, Valentino Rossi, menjalani tes pramusim MotoGP 2019 di Sirkuit Sepang, Malaysia, Rabu (6/2/2019). [AFP]

Valentino Rossi, La Decima, dan Definisi Kehebatan

Jurnalsulawesi.com – “Setiap saya kalah, mereka bilang seharusnya saya berhenti karena sudah terlalu tua. Pernyataan itu cukup keren, karena mereka sudah mengatakan sejak sepuluh tahun yang lalu.”

Pernyataan di atas merupakan respons Valentino Rossi ketika ditanya mengenai komentar para haters terkait usianya yang sudah tidak muda lagi untuk bersaing dalam perebutan gelar juara dunia MotoGP.

Sabtu (16/2/2019), Valentino Rossi berulang tahun ke-40. Sebuah usia yang tentunya sudah tidak muda lagi untuk tampil di ajang MotoGP.

Di usia 40, Rossi harus tampil di 19 seri balapan di 16 negara berbeda selama delapan bulan. Menunggangi sepeda motor dengan berat lebih dari 160 kilogram, mengenakan kostum balap lebih dari empat kilogram, dan kehilangan banyak carian selama tiga hari beruntun di setiap serinya.

Entah apa yang ada di benak Rossi ketika menandatangani kontrak dengan Yamaha hingga 2020. Sebuah kontrak yang membuat The Doctor akan tampil di ajang MotoGP hingga usianya menginjak 41.

Wajar kiranya ada haters yang menyatakan Rossi lebih baik pensiun karena sudah terlalu tua untuk tampil di MotoGP. Faktanya adalah pebalap kelahiran Urbino, Marche, 16 Februari 1979 itu sudah tidak pernah mampu merebut gelar juara dunia MotoGP sejak 2009.

Terlepas dari musim 2015, Rossi tidak pernah benar-benar memiliki peluang yang cukup besar untuk merebut gelar juara dunia MotoGP sejak 2009. Tapi, perlu dicatat Rossi selalu mampu bersaing dengan para pebalap yang jauh lebih muda di MotoGP seperti Marc Marquez dan Jorge Lorenzo.

Rossi merupakan salah satu definisi kehebatan untuk seorang atlet. Hanya segelintir atlet yang mampu bertahan di level teratas lebih dari dua dekade seperti Rossi. Bagaimana Rossi mempertahankan motivasi di setiap musimnya sungguh luar biasa.

Obsesi La Decima
Tidak dipungkiri merebut gelar juara dunia kesepuluh, atau La Decima, menjadi suatu obsesi bagi Rossi. Sebuah obsesi yang mungkin bisa membuat Rossi mengakhiri karier sebagai pebalap dengan tenang. Rossi ingin mengakhiri karier di puncak.

Merebut La Decima bukan hal yang mustahil bagi Rossi dalam dua musim ke depan. Tugas berat, tapi bukan hal yang mustahil. Terlebih jika Yamaha mampu meningkatkan kemampuan sepeda motor YZR-M1 sesuai keinginan The Doctor. Musim lalu Rossi memang gagal meraih kemenangan di MotoGP, tapi dia tetap punya potensi untuk menjadi juara dunia musim ini.

Usia yang sudah tidak muda seharusnya bukan masalah untuk bisa menjadi juara dunia. Pasalnya, Rossi tidak pernah berlatih fisik secara berlebihan jika berada di luar sirkuit. Dia lebih sering mengasah kemampuan dengan menjalani latihan di sirkuit miliknya, The Ranch.

Rossi tinggal harus berani mengambil risiko di atas trek. Sesuatu yang dia tunjukkan ketika hampir menjadi pemenang di MotoGP Malaysia musim lalu. Dibanding pebalap lain yang lebih muda, terutama Marquez, Rossi jelas kurang berani mengambil risiko saat balapan berlangsung.

Terhindar dari cedera menjadi alasan kenapa Rossi tidak mengambil risiko lebih banyak. Rossi sadar di usia yang tua dia tidak akan bisa kembali pulih dengan cepat jika mengalami cedera yang cukup serius.

Sebagian pecinta MotoGP tentunya ingin melihat Rossi merebut gelar juara dunia kesepuluh, gelar juara yang bisa menyempurnakan karier The Doctor.

Kini Rossi punya waktu dua musim untuk mewujudkannya. Namun apa pun yang terjadi dalam dua musim ke depan di MotoGP, Rossi tetap memiliki karier yang sempurna. [***]

 

Sumber; CNNIndonesia

(Visited 13 times, 1 visits today)
Bagikan Tulisan ini :

Komentar Anda..!

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*